Senin, 28 Januari 2008

Nasib Korban Tabrakan Tanker Belum Jelas

*Belum Ada Keterangan Resmi dari Pihak TNI AL

KARIMUN EXPOSE - Empat korban tabrakan antara tanker berbendera Taiwan dengan sebuah kapal nelayan KM Hero yang terjadi Kamis lalu, kemarin sudah meninggalkan ruang perawatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karimun.

Kendati tabrakan cukup dahsyat hingga membuat kapal kayu nelayan tersebut pecah berkeping-keping, namun kondisi anak buah kapal KM Hero, Latif (41), Atan (23), Supiyadi (32), dan Rahmat (33), hanya mengalami luka ringan. Sedangkan empat orang lainnya, Masran (30), Ranek (20), Kartono (30), Maswar (30) tidak mengalami cidera apapun. Hanya saja, nahkoda KM Hero Abdul Wahid alias Ahi (44) tewas dalam kejadian itu.

Empat korban yang sempat dirawat di RSUD Karimun mengalami syok dan terlalu banyak memminum air laut dan luka-luka gores. Menurut seorang keluarga kondisi mereka sudah mulai membaik dan sudah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan korban tewas, Abdul Wahid sudah dikuburkan pihak keluarnya keesokan hari.

Menurut Latif ia hanya mengalami luka gores di sekujur tubuh. Tapi mengenai pertanggungjawaban akibat kecelakaan tersebut mereka belum mengetahui harus berbuat apa. “Kita tak tahu harus bagaimana,” terangnya.

Latif kemarin sudah dapat kembali ke rumahnya di Kundur. Sedangkan mengenai kapal yang hancur berkeping-keping tersebut belum jelas apakah menjadi tanggungjawab yang menabrak atau bagaimana. Hingga kemarin, pihak korban belum mendapatkan penjelasanan apa-apa.

Begitu juga dengan santunan nahkoda yang tewas dalam kejadian tersebut. Ahi meninggalkan tiga orang anaknya yang masih kecil serta satu orang istri. Mereka selama ini hanya hidup bergantung kepada Ahi. Dengan meninggalnya Ahi dalam kejadian tersebut, pupus sudah harapan dalam memenuhi ekonomi keluarga ke depan.

“Seluruh korban yang dirawat di rumah sakit sudah kembali ke rumah masing dan Ahi juga telah dikuburkan keluarganya,” ungkap Aiptu Bustami, Kanit Reskrim Polsek Meral kepada wartawan, Sabtu (26/1).

Menurut Bustami ia turut membantu karena korban merupakan warga Meral dan juga sempat melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Meral. “Kita hanya membantu korban saja,” terang Bustami.

Banting Kemudi Tanker Bisa Kandas

Semnatar itu berdasarkan analisis Kepala Seksi Penjagaan dan Keselamatan (Gamat) Administrator Pelabuhan Tanjungbalai K arimun Fakhrin Riza, pada dasarnya kapal yang lebih besar lebih diuntungkan jika tengah berlayar di perairan internasional, Tentu saja hal itu juga sesuai dengan sesuai aturan lalu lintas laut.

Pasalnya, kapal tanker tersebut biasanya sudah memiliki jalur khusus untuk dilalui. Tentu saja jalurnya tersebut tidak boleh dilintasi oleh kapal-kapal lainnya yang jauh lebih kecil. “Kapal kecil harus menghindar karena kapal besar tidak mungkin menghindar dengan cepat,” terangnya.

Menurut Fakhrin, disamping sulit menghindar, kondisi seperti itu jarang sekali terjadi. “Kalau pun dia menghentikan laju kapal secara mendadak, barangkali baru satu kilometer bisa berhenti,” terang Fakhrin.

Resiko yang lebih besar, bisa saja kapal tersebut kandas atau terbalik. Lagi pula kapal tanker tersebut tentunya tidak boleh keluar jalur pelayarannya. Berlayar di Selat Malaka juga sudah ada aturannya dan tidak bisa sembarangan.

Apakah Adpel Tanjungbalai sudah menerima laporan dari korban terkait kecelakaan tersebut, Fakhrin mengaku hingga kemarin ia belum menerima satu pun laporan terkait kejadian tersebut. “Sebenarnya kejadian tersebut bukan di wilayah kita, tapi kalau ada laporan kita tetap akan menindaklanjutinya,” terangnya.

Sedangkan Dansional TNI AL Tanjungbalai Karimun Letkol (P) Arif Sumartono belum dapat dikonfirmasi terkait kejadian tersebut. Arif tak dapat ditemui di kantornya. “Komandan lagi ke Tanjungpinang, ada keperluan dinas,” ungkap seorang anggota Sional TNI AL di Tanjungbalai kemarin. Menurut cerita korban tabrakan tanker versus kapal nelayan, mereka dievakuasi oleh TNI AL Tanjungbalai Karimun.(poenk)

Pengurus KPK Cabang Kecamatan Karimun Dilantik


KARIMUN EXPOSE - Pelantikan Pengurus organisasi kepemudaan Kerukunan Pemuda Karimun (KPK) cabang Kecamatan karimun, Selasa (22/1) menjadi momen pemantapan langkah pemuda, khususnya mereka yang tergabung dalam KPK untuk terus mewujudkan sikap kritis terhadap kondisi sosial masyarakat tetapi tetap terarah dan harus selalu dilandaskan intelektual.

"Supaya kita semua bisa menuju generasi karya mandiri yang membangun bumi bertuah, kita harus tetap kritis terhadap kondisi sosial masyarakat dan kebijakan pemerintah, tetapi perlu kita tekankan sikap kritis itu harus terarah yang berlandaskan intelektual," ujar Zulkhainen SH, Ketua KPK Kabupaten Karimun kepada ratusan hadirin pada acara pelantikan pengurus KPK cabang Kecamatan Karimun di gedung nasional, Selasa (22/1).

Sebagai tulang punggung pembangunan, pemuda juga dituntut untuk mandiri, tidak cengeng dan berdedikasi tinggi terhadap kemajuan pembangunan. "Bukan saatnya lagi kita menggunakan kekuatan fisik dalam mengatasi masalah, tetapi dnegan intelektual dan duduk bersama mencari solusi agar semua masalah bisa terselesaikan dengan baik," tambahnya.

Bupati Karimun Nurdin Basirun yang didampingi Wakil Bupati Karimun Aunur Rafiq yang menghadiri pelantikan acara tersebut juga mengatakan peran pemuda dalam menyokong pembangunan dinilainya sangat penting. "Jika ada sesuatu yang tidak beres dalam proses pembangunan misalnya, kita berharap sikap kritis pemuda. Bukan protes, tapi memberikan solusi atau jalan keluar atas sebuah masalah. Ini harus kita pahami dan sangat penting agar suasana Karimun tetap kondusif," ungkapnya.

Sementara itu puluhan pemuda yang tergabung dalam pengurusan KPK cabang Kecamatan Karimun dilantik dibawah sumpah Ketua KPK, Zulkhainen. Hance Rais yang terpilih sebagai Ketua KPK cabang Karimun periode 2007-2011 dalam sambutannya mengatakan akan terus mengedepankan kebersamaan di antara pemuda untuk menyongsong pembangunan ke depannya. (poenk)

Aguan di Tangkap Polisi

*Terbukti Menyimpan Shabu

KARIMUN EXPOSE – Jajaran Sat Narkoba Polres Karimun melakukan penggerebekan dan berhasil mengamankan tersangka pemilik dan pengedar sabu-sabu Aguan aliasAmat (34), di perumahan BTN Belakang Hotel Marina, Sei Lakam, Rabu (24/1).

Dalam penggerebekan yang dilaksanakan sekitar pukul 23.00 WIB, polisi berhasil menyita 0,2 gram sabu-sabu, berikut peralatan nyabu, aluminium foil, dan bong yang terbuat dari botol air mineral. Tidak mudah bagi polisi untuk mendapatkan barang bukti sabu-sabu tersebut.

Semula Aguan tidak langsung mengakui ia telah memesan sabu-sabu dari YD. Padahal sebelumnya polisi telah melakukan penyelidikan dan mengetahui bakal ada transaksi obat terlarang sejenis psikotropika di tempat tersebut.

“Aguan semula tidak mau menyebutkan menyimpan dimana barang tersebut,” ungkap Kepala Sat Narkoba Polres Karimun AKP Aries Andhi SIK menceritakan kronologis penangkapan kepada wartawan Rabu (23/1).

Menurut Kepala Polres Karimun AKBP Drs Leonidas Braksan MM melalui Kasat Narkoba Polres Karimun AKP Aries Andhi SIK, saat digerebek Aguan tengah bersama Lilik teman kencannya. Namun Lilik mengaku memang tidak mengetahui apa-apa. Polisi tidak kehilangan akal, dan mendesak agar Aguan berterus terang.

Baru lah beberapa saat kemudian, Aguan mengaku menyimpan, psikotropika golongan satu tersebut di rak piring di dalam rumahnya tersebut. “Akhirnya dia mengaku menyimpan barang tersebut di rak piring, dia langsung pergi mengambil barang itu,” ungkap Aries.

Sedangkan pengirim barang YD, berhasil lolos. Pihak kepolisian kehilangan jejak pengirim sabu yang berasal dari Batam. Aries mengatakan peredaran sabu-sabu di Karimun saat ini memang terus menjadi target polisi.

Kemarin tampak Aguan diperiksa di ruang Sat Narkoba Polres Karimun. Pria berperawakan tinggi kurus dan berkulit putih tersebut, tampak lunglai ketika diperiksa. Aries menambahkan, Aguan disangka telah melanggar Pasal 62 UU RI No 5 tahun 1997 tentang psikotropika.

“Ia diduga telah secara tanpa hak melakukan tindak pidana secara tanpa hak dan melawan hukum memiliki dan menyimpan dan membawa psikotropika jenis sabu-sabu,” terang Aries.(poenk)

Apong Akhirnya Minta Maaf Kepada Wartawan

*Terkait Perbuatan Tidak Menyenangkan Terhadap Wartawan Tribun

KARIMUN EXPOSE - Akhirnya Apong pengusaha pangkalan minyak tanah bersubsidi di Meral secara resmi meminta maaf kepada sejumlah insan pers terutama terhadap wartawan Tribun Batam, terkait pengancaman dan perbuatan tidak menyenangkan yang ia lakukannya , saat wartawan Tribun bernama M Zuhri melakukan peliputan atas dugaan penyelewengan minyak tanah bersubsidi di Meral, Sabtu (19/1) lalu.

Dalam kesempatan itu, Apong menyatakan penyesalan mendalam dan mengakui segala perbuatannya tersebut. Apong mengaku emosinya memuncak karena tempatnya tersebut sering didatangi preman dan wartawan yang tidak jelas surat kabarnya.

“Bang Zuhri waktu itu memang datang baik-baik, bahkan ketika saya gertak dia masih sempat pamit sama saya. Niat saya cuma menggertak saja, biar cepat pergi. Saya sering didatangi preman-preman dan wartawan tak jelas. Biasanya saat preman-preman itu datang begitu saya gertak dia pasti langsung pergi,” terang Apong di Mapolres Karimun, Rabu (23/1).

Permintaan maaf Apong disampaikan dihadapan beberapa wartawan yang hadir saat itu, disamping itu juga disaksikan oleh utusan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Batam yang diwakili Sekretaris Kurnia Saifullah, untuk melakukan advokasi terhadap segala yang menyangkut insan pers dalam melakukan peliputan berita, termasuk kasus pengancaman yang menimpa wartawan Tribun Batam tersebut.

Menurut Ketua AJI Batam Anwar Sadat melalui Sekretaris AJI Batam Kurnia Saifullah, wartawan dalam melakukan setiap tugas peliputan berita selalu dilindungan undang-udang, yakni UU No 40 tahun 1999 tentang Pers.

“Jadi menghalang-halangi tugas wartawan apalagi melakukan pengancaman, bisa dikenakan ancaman pidana 2 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 500 juta, hal itu terdapat dalam Pasal 4 ayat 2 dan 3 UU No 40 tahun 1999 tentang Pers. Kita berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi setiap pihak yang berhubungan dengan wartawan,” terang Saifullah yang sengaja datang ke Karimun terkait hal tersebut.

Sesuai keterangan kedua belah pihak, kejadian tersebut berawal saat wartawan Tribun Batam M Zuhri, Sabtu (19/1), hendak melakukan wawancara dengan Apong, terkait pendistribusian minyak tanah di wilayah Meral. Namun sebelum diwawancarai, begitu Zuhri memperkenalkan diri dari tribun Batam Apong langsung menjawab dengan nada emosi nahwa dirinya telah melaksanakan sesuai dengan aturan.

Bahkan wartawan tribun batam disuruh menunggu di pangkalan selama 24 jam untuk membuktikan bahwa minyak tanah dijual kepada masyarakat. Apong juga membenarkan keterangan tersebut.

Seperti yang dilansir media di Karimun bahwa Apong mengaku ia membeli minyak tanah tersebut dari agen minyak tanah (AMT) dengan pemilik Apo dengan dijual seharga Rp 2.700 per liter, padahal sesuai dengan aturan Harge Eceran Nyata (HEN) yang terpampang di plang nama pangkalan minyak tanah seharga Rp 2.525 per liter.

Saat itu Apong meminta wartawan tribun batam menanyakan langsung kepada Apo. Ketika wartawan Tribun Batam mencoba meminta izin mengambil foto lokasi usahanya, tiba-tiba saja Apong langsung emosi, sambari mengancam akan memukul M Zuhri. (poenk)

Kapal Penumpang Meledak Saat Isi Bahan Bakar

KARIMUN EXPOSE– KM Budi Jasa GT 20, kapal penumpang dengan rute Batam-Moro meledak akibat terbakar saat melakukan pengisian bahan bakar di pengisian bahan bakar minyak di Gelugur, Kelurahan Moro, Senin (21/1), sekitar pukul 14.15 WIB. Dalam sekejap kapal tersebut langsung ludes dan hanya tinggal kerangka. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Penumpang yang berjumlah puluhan orang dengan tujuan Moro sebelumnya telah terlebih dahulu turun di pelabuhan setempat. Tapi sayang, anak buah kapal (ABK) Budi Jasa, Suwardi (35), yang tengah melakukan pengisian bahan bakar dan berdiri di dekat mesin kapal tersebut tersambar api hingga mengalami luka bakar yang cukup serius.

Kepala Polres Karimun AKBP Drs Leonidas Braksan MM melalui Kepala Polsek Moro AKP Burhanuddin mengatakan, penyebab terbakarnya kapal penumpang tersebut masih belum diketahui secara pasti. Polisi juga belum bisa menduga-duga, apakah terbakar akibat kecelakaan atau ada unsur kelalaian.

Menurut Burhanuddin ketika itu, kapal yang dinahkodai Usman baru saja selelsai menurunkan penumpang di pelabuhan Moro. Setelah itu, seperti biasa kapal melakukan pengisian minyak di stasiuan pengisian bahan bakar terapung.

Semula kapal akan melakukan pengisian dua drum bahan bakar. Tapi baru saja selesai mengisi satu buah drum bahan bakar, tiba-tiba saja entah dari mana muncul bunga api dan menyambar minyak tersebut.

Kontan saja, bak api disiram dengan minyak. Api dengan cepat menjalar ke seluruh bagian kapal. Suwardi yang ketika itu tengah melakukan tugas mengisi bahan bakar tersebut, tak bisa berbuat apa-apa. Hingga terjadi ledakan yang diduga berasal dari drum berisi minyak. Ledakan cukup keras, hingga lidah api sempat menyambar tangan dan muka Suwardi.

Di kapal hanya ada Suwardi dan Usman, nahkoda kapal. Usman kemudian meminta pertolongan masyarakat setempat. Pertolongan pun datang dari warga sekitar. Sedangkan Suwardi yang mengalami luka bakar langsung dibawa ke rumah sakit Moro.

Api tidak sempat menjalan ke tempat pengisian bahan bakar tersebut, karena sebelum api membesar, kapal berhasil dibawa menjauh dari tempat tersebut. Kemudian warga yang menyaksikan kejadian tersebut tanpa dikomando langsung memberikan bantuan seadanya. Berikut beberapa anggota Polsek Moro juga melakukan upaya pemadaman api.

Tapi api di kapal tersebut terus membesar tanpa bisa dijinakkan. “Kita sudah berupaya bersama dengan warga memadamkan api yang membesar dengan alat seadanya. Tapi kita hanya bisa menarik kapal ke tepi, setelah api perlahan-lahan padam,” ungkap Kepala Polsek Moro Burhannudin.

Menurut Burhanuddin, saat ini pihaknya tengah melakukan penyelidikan terkait kebakaran kapal tersebut. Bangkai kapal diamankan tak jauh dari lokasi kejadian. Selanjutnya polisi akan melakukan pemeriksaan terhadap Usman dan Suwardi serta beberapa orang saksi lainnya yang melihat kejadian tersebut.

“Kita tengah melakukan penyelidikan terkait terbakarnya kapal tersebut. Sementara kita minta keterangan nahkoda kapal dan saksi. Sedangkan ABK kapal yang mengalami luka ringan belum bisa dimintai keterangan karena masih dalam perawatan pihak rumah sakit,” ungkap Burhanuddin. (poenk)

Distribusi Minyak Tanah di Karimun Tersendat-sendat


*Ada Dugaan Untuk Minyak Oplosan

KARIMUN EXPOSE – Hingga saat ini warga Karimun mengaku masih sangat sulit memperoleh bahan bakar minyak jenis minyak tanah. Padahal pemerintah telah menarapkan minyak subsidi untuk masyarakat. Kelangkaan minyak tanah bersubdisi ini sudah terjadi satu bulan belakangan ini.

Kelangkaan terbesar terjadi di Tanjung Balai, khususnya di tempat-tempat penjual minyak tanah setingkat pengecer. Banyak sebagian warga di Karimun mengaku tidak bisa mendapatkan minyak tanah belakangan ini.

Bahkan tidak sedikit warga sudah berkeliling kota Tanjung Balai untuk mendapatkan minyak tanah tersebut, namun sia-sia. Kalau pun ada harganya sangat mahal dibanding sebelumnya.

Menurut sebagian warga pengguna minyak tanah mengatakan, hal ini di karenakan distribusi minyak tanah tersebut tersendat-sendat. Sehingga dengan mudah pengecer atau pun pemilik pangkalan menaikkan harga dengan alasan langka.

“beberapa hari ini saya harus berkeliling untuk mendapatkan minyak tanah untuk keperluan rumah tangga dan jualan gorengan. Membeli di tempat biasa kadang kosong berhari-hari,” ungkap Slamet warga Kolong kepada KARIMUN expose, Jumat (25/1).

Hal tersebut dibenarkan oleh Muti’ah warga Kolong, yang menjual minyak tanah. Kelangkaan usaha menjual minyak tanah ini karena memang dari pangkalan tersendat alasannya sudah habis di beli masyarakat.

“Bahkan ada tetangga saya yang membeli minyak tanah ke Pulau Parit untuk keperluan jualan nasi uduknya. Kalau mengharap dari sini kemungkinan harus menunggu lama. Jadi harus rela berkeliling untuk mendapatkan minyak tanah,” jelas Muti’ah.

Kelangkaan minyak tanah ini, memunculkan kecurigaan warga bahwa ada beberapa pangkalan minyak tanah di Karimun yang nakal, melakukan penimbunan dan pengoplosan minyak tanah dengan bahan bakar lainnya seperti solar.

Pasalnya, menurut warga pangkalan yang memiliki izin mendistribusikan minyak tanah di Karimun cukup banyak. Bahkan setiap dua hingga tiga kali dalam semingggu pangkalan tersebut selalu melakukan pengisian minyak tanah. Namun hanya dalam sekejap minyak tanah bisa lesap dari pangkalan tersebut.

Padahal jumlah pembeli dari masyarakat setempat tidak seberapa.Dari pantauan KARIMUN expose kecurigaan warga tersebut cukup beralasan. Terutama di wilayah Kecamatan Meral, beberapa warga menduga ada beberapa pangkalan yang diduga melakukan pengoplosan minyak tanah tersebut dengan bahan baker solar.

Sumber KARIMUN expose mengatakan minyak tanah tersebut dioplos dengan menggunakan solar hasil kencing kapal-kapal tongkang di perairan Karimun dengan perbandingan 3 liter solar dioplos dengan 1 liter minyak tanah maka menjadi 4 liter solar siap jual, setelah dioplos kemudian dijual kembali ke kapal-kapal di perairan.

Kenyataan maraknya kapal kencing di perairan Karimun berdasarkan ungkapan kepolisian beberapa waktu terakhir ini. Dari data yang ada di Kepolisian sempat diungkap ketika itu polisi berhasil mengamankan sekitar 10 ton minyak hasil kencing di perairan Karimun.

Terakhir, petugas Bea Cukai Kanwil IV Dirjen Bea Cukai (DJBC) Kepri, Tanjungbalai Karimun berhasil mengamankan sekitar 10 ton minyak kencing di perairan yang sama. Saat ini kapal minyak kencing tersebut masih diamankan di Pos Ketapang Kanwil II BC di Meral.

Memang hingga saat ini, laporan upaya pengoplosan minyak solar dari minyak tanah subsidi dari masyarakat sudah masuk di kepolisian, namun dengan alasan klasik polisi masih belum menemukan bukti-bukti kuat.

Kini masyarakat lebih bertanya-tanya, apakah pihak pemerintah dan kepolisian terkesan tutup mata dengan bisnis yang menjanjikan tersebut. Masyarakat kini merasa dibodohi dengan data-data.

Namun Polisi membantah dugaan bahwa polisi terkesan tutup mata dengan permasalahan kasus tersebut. Hingga saat ini pihak kepolisian mejelaskan tetap menangani kasus ini, dengan mengumpulkan data-data.

Menanggapi adanya keluhan masyarakat dan munculnya kecurigaan mengenai pengoplosan minyak tanah bersubsidi dioplos, Kepala Polres Karimun Drs Leonidas Braksan MM mengungkapkan akan menindak lanjutinya.

Menurut Kapolres, penindakan terhadap kegiatan-kegiatan dengan minyak bersubdisi ini memang tengah menjadi pusat perhatian hingga di tingkat nasional.

“Kita akan menindak lanjuti kalau memang ada laporan terkait penyelewengan atau pengoplosan minyak tanah tersebut dari warga. Karena mengenai bahan bakar minyak ini memang tengah menjadi sorotan hingga di tingkat nasional,” tegasnya saat ditemui wartawan beberapa waktu lalu.

Leonidas mengatakan bagi masyarakat yang memiliki informasi mengenai kegiatan-kegiatan khususnya terkait dengan penyelewengan bahan bakar minyak, bisa melaporkan langsung ke Polres Karimun atau ke Polsek-Polsek. (poenk)

Polisi Akan Lakukan Penyidikan

*Terkait Dugaan Penyelewengan Minyak Tanah Bersubsidi

*Apong dan Among di Periksa Polisi

KARIMUN EXPOSE – Dugaan maraknya bahan bakar solar yang di oplos dengan minyak tanah di Karimun oleh para oknum pangkalan minyak tanah, menjadi perhatian serius bagi berbagai komponen masyarakat karena upaya ini menggunakan minyak tanah subsidi bagi masyarakat. Kondisi ini sangat memperihatinkan karena masyarakat saat ini sulit mendapatkan harga minyak tanah yang murah.

Ada beberapa pangkalan minyak tanah yang diduga melakukan pengoplosan tersebut, dengan dalih sebagai penyalur minyak tanah bersubsidi. Bebepa pangkalan langsung kalang kabut bak kebakaran jenggot lantaran Pihak Kepolisian menemukan adanya dugaan penyelewengan minyak tanah bersubsidi.

Temuan ini berawal adanya laporan masyarakat tentang maraknya pengoplosan solar dengan minyak tanah. Sumber KARIMUN expose menyebutkan ada 7 pangkalan minyak tanah di Karimun melakukan pengoplosan dengan menggunakan minyak tanah bersubsidi bagi masyarakat.

Saat ini polisi melakukan pengembangan penyidikan dengan mengumpulkan data dari para agen dan pengkalan minyak tanah di karimun. Apabila di temukan indikasi tersebut, maka polisi akan segera melakukan tindakan tegas kepada para pendistribusi minyak tanah tersebut. Polisi juga telah melakukan penyelidikan kepada 2 pemilik pangkalan minyak tanah Apong dan Among. Terkait laporan dari masyarakat adanya penyelewengan data penyaluran.

Kepala Kepolisian Resor Karimun AKBP Drs Leonidas Braksan MM, membenarkan adanya pemeriksaan terhadap 2 orang pemilik pangakalan minyak tanah tersebut. "menindak lanjuti laporan masyarakat kami langsung melakukan penyelidikan. kita sudah panggil 2 orang pemilik pangkalan minyak tanah untuk dimintai keterangan atas kebenaran laporan tersebut. Apabila terbukti maka kami akan langsung melakukan penyidikan," jelasnya kepada KARIMUN expose Senin (20/1).

Apong, pemilik pangkalan minyak tanah bersubsidi di Meral Senin (20/1) memenuhi panggilan polisi terkait adanya dugaan penyelewengan minyak tanah bersubsidi. Apong diperiksa secara intensif di ruang Sat Intelkam Polres Karimun. Menurut pihak kepolisian, kemarin Apong dimintai keterangan terkait penyaluran minyak tanah bersubsidi di pangkalannya. Polisi juga meminta beberapa dokumen terkait penyaluran minyak tanah tersebut

Polisi juga mem-police line (garis polisi) di gudang yang berada di pangkalan milik Apong yang berupa Rumah Toko (ruko) sekaligus sebagai tempat tinggalnya itu. Kemarin pihak kepolisian langsung melakukan pemeriksaan intensif terhadap pria beristri 4 keturunan Tiong Hoa tersebut.

.

Yang cukup mengejutkan di belakang pangkalan Apong terdapat beberapa gudang yang diduga sebagai bunker yang berisikan puluhan drum berbau minyak solar. Disamping itu terdapat slang-slang yang berhubungan dari satu gudang ke gudang yang lain. Gudang langsung menyatu dengan laut. Di belakang gudang tersebut terdapat kapal-kapal berukuran cukup besar tengah bersandar. Polisi sehari sebelumnya sempat terjun ke pangkalan tersebut, untuk melakukan pengumpulan data.

Polisi melakukan pemeriksaan terhadap Apong, setelah menerima informasi mengenai adanya dugaan penyelewengan minyak tanah. Warga Karimun mengaku sangat kesulitan mencari bahan bakar minyak jenis minyak tanah. Kelangkaan sudah terjadi dua minggu belakangan. Padahal pasokan dari tangki pengangkut minyak tanah bersubsidi tersebut rutin di lakukan.

Among, yang juga pemilik pangkalan di Meral, diperiksa secara intensif di ruang Sat Intelkam Polres Karimun, Rabu (23/1). Menurut pihak kepolisian, Among dimintai keterangannya terkait dugaan adanya penyelewengan minyak tanah bersubsidi di pangkalan yang ia miliki. Among tiba di Mapolres Karimun dengan beberapa anggota Polres Karimun pada pukul 11.00 WIB. Hingga sore Among dimintai keterangan oleh Polisi.

Among merupakan salah satu pangkalan yang cukup besar di Meral. Kuota untuk Among bisa mencapai 40 ton per bulan, dengan demikian jumlah pangkalan ternyata melebihi jumlah penduduk yang berada di sekitar wilayah pangkalan.

Warga Meral yang ditemui KARIMUN expose mengaku tidak pernah membeli minyak di tempat tersebut, alasannya karena tidak mengetahui adanya pangkalan di tempat tersebut. karena plang nama pangkalan tidak tertera. "jangankan harganya, kemana julanya minyak tanah tersebut kamipun tidak tahu. Kami biasanya beli di sana (menunjuk pangkalan Apong, yang tidak jauh dari tempat Among)," ungkap Erik, warga Meral kepada wartawan, Rabu (23/1).

Kelangkaan minyak tanah khususnya terjadi di Tanjung Balai, tempat-tempat pengecer minyak tanah. Untuk mendapatkannya terkadang harganya sangat mahal dari biasanya, bahkan beberapa warga mengaku harus menyeberang pulau untuk mendapatkan minyak tanah.

Kelangkaan ini membangun kecurigaan masyarakat tentang adanya penyelewengan minyak tanah oleh pengkalan. masyarakat beranggapan minyak tanah bersubsidi tersebut digunakan untuk oplosan solar yang dijual kepada masyarakat. Padahal menurut warga pangkalan minyak tanah yang ada di karimun cukup banyak dan tiga kali seminggu melakukan pengisian minyak tanah namun minyak tanah begitu cepat habisnya. (poenk)